Cinta Pertama Sampai Mati (3-Tamat)

Di Usia Senja Mereka Bersatu dalam Cinta
SEBELUMNYA diceritakan, Encim dan Enok yang sudah memutuskan untuk menikah dengan rela membatalkannya. Mereka ikhlas berpisah demi dakwah Islamiah. Encim merelakan Enok menikah dengan Ghafur yang dijodohkan oleh pemimpin pesantren. Persaudaraan di antara mereka pun tetap terjalin. Ketika mereka menikah dengan pasangannya masing-masing, mereka saling mengunjungi. Bahagiakah mereka? Inilah akhir dari kisahnya yang ditulis H. Undang Sunaryo untuk Anda. Semoga bermanfaat.

DI Bandung Enok tinggal di rumah adiknya. Adik iparnya bekerja sebagai petani dan berkebun sayur mayur. Karena merasa tidak enak tinggal di saudara, akhirnya Ny.Enok membangun rumah permanen di samping rumah adiknya.


Setelah memiliki rumah, Enok membuka pengajian bagi ibu-ibu di kampung itu. Setiap pagi, siang, sore, hingga malam hari di rumahnya tak pernah sepi orang mengaji. Hanya saja dia tidak dapat melayani undangan untuk berdakwah di luar daerah, padahal tidak sedikit yang mengundangnya. Alasannya karena ia ingin istirahat menikmati masa tua sambil mengajar ngaji ibu-ibu.

Lama lama Encim tahu bahwa Enok sudah menjanda dan sekarang pulang ke kampung halamannya. Terdorong oleh rasa penasaran ia mencoba datang untuk bersilaturahmi sambil melepas rasa rindu yang sudah lebih setengah abad tenggelam.

Ternyata benar juga, meskipun keduanya sudah kakek-kakek dan nenek-nenek, jalinan kasih yang dahulu telah terpadu kembali mekar. Baik Enok maupun Encim samasama merasakan kerinduan di dadanya. Rasa cinta yang dulu terputus tetap mekar di hati mereka masing-masing. Lalu keduanya bersepakat untuk menyambungkan kembali tali kasih yang dulu terputus. Namun untuk menuju pernikahan perlu waktu, karena mereka harus berkonsultasi dengan anak-anak mereka yang kini sudah dewasa dan berumah tangga.

Seandainya anak mereka sudah mengizinkan, maka pernikahan bukanlah menjadi halangan. Tujuan mereka hanya satu, saling menitipkan diri karena sudah sama-sama tua. Sebaliknya jika ada di antara anakanak mereka yang tidak setuju, tentu membutuhkan waktu yang cukup untuk mendiskusikan dan meyakinkannya agar mereka ikhlas ayah dan ibunya berumah tangga di kala usia renta.

Ternyata benar juga hampir semua anakanak Enok tidak setuju, kecuali si bungsu yang maish kuliah. Mereka tidak setuju karena merasa malu ibunya menikah di saat usia sudah mendekati 70 tahunan. Enok diharapkan oleh anak-anaknya jangan menikah lagi, karena semua keperluan hidup di Bandung dijamin oleh anak-anaknya.

"Kami merasa malu ibu menikah dengan kakek-kakek. Toh meski tidak menikah lagi ibu tetap dihormati orang lain termasuk oleh kami anak-anak Ibu," begitu kata Ihsan anak Enok nomor dua.

"Ibu ingin menikah lagi, untuk menghindari fitnah. Ibu sibuk dengan kegiatan di rumah," kata Enok. Ihsan tetap ngotot dan bersikeras agar ibunya membatalkan niatnya untuk menikah dengan Encim. Begitu juga dengan adik dan kakaknya, tak menghendaki ibunya bersuami lagi. Sebetulnya Enok tak mau mengumbar apa yang selama ini tersimpan dalam hatinya, yaitu dulu semasa kecil hingga remaja pernah menjalin tali kasih dengan Encim. Kisah seperti itu tak perlu diketahui siapa pun termasuk anak-anaknya.

Ya! Karena sudah tak tahan menerima ancaman dan hambatan dari anak-anaknya akhirnya rahasia yang tersimpan selama ini ia ceritakan semuanya kepada anak-anaknya. Ternyata kisah pribadi yang dilontarkan Enok cukup menyentuh perasaan mereka hingga hati mereka pun menjadi luluh. Mereka akhirnya mengerti akan alasan itu. Ihsan yang semula bersikeras menolak ibunya untuk menikah, akhirnya dialah yang pertama kali mengizinkan ibunya menikah dengan Encim.

"Alhamdulillah Ya Allah, semua anakanakku ikhlas dan meridoi serta merelakan aku untuk melaksanakan Sunnah Rasul, menikah dengan Encim," ungkap Enok sambil melakukan sujud syukur di hadapan anakanaknya.

Berbeda dengan yang dialami keluarga Encim. Keempat anaknya mempersilahkan ayahnya menikah lagi. Meski dalam hati kecil mereka pun kurang rela ayahnya menikah lagi. Namun apa daya karena Encim terus ngotot dengan alasan agar ada yang menyayangi dan mengurus dirinya, maka semua mengizinkannya.

Pada tahun 2004 bertepatan dengan bulan Dzulhijjah, Encim menikah dengan Enok. Acara pernikahan dihadiri semua anak, menantu, serta cucu cucu dari masing-masing pasangan pengantin pria dan wanita yang sudah renta itu. Pernikahan Encim dan Enok bagi membuat rekan dan tetangga mereka geleng-geleng kepala, karena mereka tahu bahwa di masa lalu kedua psangan pengantin pernah menjalin hubungan tali cinta bahkan berencana untuk menikah.

Ternyata cinta yang dulu pernah tumbuh dan kemudian hilang hampir setengah abad, kembali tumbuh. Cita-cita untuk menjalin rumah tangga dulu menjadi kenyataan, meski keduanya sudah berada di usia renta. Itulah salah satu kekuasaan Allah.

Hubungan suami istri antara Enok dan Encim terjalin mesra. Setiap datang waktu subuh keduanya bersama-sama pergi ke masjid melaksanakan salat berjamaah. Demikian pula waktu zuhur, asar, magrib, dan isya selalu bersama-sama berangkat ke masjid. Bahkan Encim didaulat masyarakat untuk menjadi imam.

Hanya lima tahun hubungan pernikahan antara Encim dan Enok berlangsung. Tuhan berkehendak lain. Ketika keduanya mau bersilaturahmi menengok anak dan menantu di Jawa Tengah, kendaraan yang ditumpanginya menabrak sebuah pohon di kawasan jalan raya Tegal. Akibat musibah itu Ny.Enok menderita luka parah sementara Encim hanya menderita luka ringan.

Selama dua minggu Enok dirawat di rumah sakit, kondisi kesehatannya terus menurun dan akhirnya Enok mengembuskan napas terakhirnya di pangkuan suami tercinta, Encim.

Setelah Enok wafat, Encim mulai sakitsakitan. Karena sakit terpaksa harus meninggalkan rumah mantan istrinya dan tinggal berasama anak bungsu perempuan. Berkalikali dirawat di rumah sakit kesehatannya terus menurun. Selang seratus hari setelah wafatnya Enok, Encim pun meninggal. Sebelum meninggal pernah berpesan kepada anak-anaknya agar dikuburkan di samping makam Enok. **

0 comments:

History is the discovery, collection, organization, and presentation of information about past events.

  © Blogger template Fishing by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP